Misscommunication di Balaikota

Kabar6-Proses komunikasi terjadi jika ada pesan berupa isi pernyataan disampaikan oleh penyampai pesan (komunikator) dan diterima oleh penerima pesan (komunikan). Dalam Pengantar Ilmu Komunikasi, Drs. A. M. Hoeta Soehoet mengatakan di kehidupan sosial, ada kalanya manusia mengalami kegagalan dalam proses komunikasi. Kegagalan ini dibagi menjadi dua yakni Misscommunication dan Missunderstanding.

Selengkapnya

Kesempatan Dalam Kesempitan

Kabar6-Kesempatan Dalam Kesempitan, itu judul film Warkop Dono Kasino Indro (DKI) yang dirilis Punjabi bersaudara pada tahun 1985. Film bergenre drama komedi ini sempat tenar hingga akhir era 90-an. Lantaran aksi lucu plus kocak pemerannya selalu menghibur penonton setia Warkop DKI pada kala itu.

Selengkapnya

Manisnya Bisnis Garam

Di hampir seluruh wilayah Indonesia dalam sebulan terakhir ini dibuat heboh dengan kelangkaan garam, atau heboh dengan mahalnya harga garam. Padahal semua ini tak harus terjadi, karena pada hakikatnya rasa garam itu asin dan binis garam itu manis.

Selengkapnya

Uang Sejuta Jadi Seribu

Belum lama ini kita sempat dihebohkan dengan isu soal rupiah tahun emisi 2016 yang dikatakan tidak diakui di sejumlah negara di luar negeri.Tapi namanya isu bisa berkembang liar jadi omongan macam-macam, dan belum tentu benar karena tidak diketahui pasti bagaimana dan dari mana asal usulnya.

Pengalamanku sendiri selama tinggal di luar negeri, uang rupiah rasanya tak pernah tak diakui oleh kalangan bisnis atau kalangan lainnya. Fakta yang terjadi adalah, bila ada transaksi bisnis dengan uang cash, rekan bisnis kita dari negara lain, bahkan di negara tetangga atau di daerah perbatasan, memang terkesan berusaha untuk 'mengelak' menerima bayaran dengan rupiah. Alasannya sederhanya saja, karena secara fisik jumlahnya terlalu banyak, dan kalimat seperti ini seringkali terdengar'' Singapo dolar je atau ringgit tak ape''.Jadi bukan soal diakui atau tidak diakui, kesanku mereka hanya ingin yang praktis. Bayangkan uang Rp.7,5 juta bisa jadi cuma satu lembar dolar Singapura pecahan SGD 1000. Mungkin itu juga yang jadi pertimbangan para pejabat korup, kalau minta komisi proyek pakai SGD, biar simple dan gampang diumpetin.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo sendiri mengatakan, soal itu karena lebih disebabkan minimnya ketersediaan rupiah di tempat penukaran (money changer) di negara-negara tersebut. Uang rupiah NKRI tahun emisi 2016 merupakan alat pembayaran resmi dan sah Indonesia yang sesuai dengan Undang-Undang Mata Uang dan Undang-Undang Bank Indonesia.

Pembicaraan hangat lainnya soal uang rupiah, tapi yang ini bukan isu, pemerintah berencana akan menghapus tiga nol pada uang rupiah yang beredar saat ini, artinya uang Rp.1000 akan jadi Rp.1, uang Rp.100.000 jadi Rp.100, sebagaimana dinyatakan Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Gubernur BI Agus Marto, pemerintah melalui RUU Redenominasi Rupiah ingin segera mengecilkan bilangan atau penyebutan rupiah, dan RUU Redenominasi Rupiah yang terdiri dari 17 pasal kini sedang digodok. 

Menurut Darmin, langkah ini bukan pemotongan uang atau revaluasi rupiah terhadap valas tetapi hanya penyederhanaan bilangan atau hitungan. 

Orang-orang yang sudah dewasa dan mengerti nilai uang pada 1966, pernah mengalami 'mimpi buruk' soal uang rupiah, ketika pemerintah melakukan pemotongan uang Rp 1000 menjadi Rp 1 atau disebut devaluasi. Kemudian Indonesia dilanda inflasi terus menerus sejak saat itu hingga sekarang.

Kalau yang dilakukan hanya redenominasi rupiah, kita semua memang tak perlu kaget atau merasakan pengulangan 'mimpi buruk' yang pernah dialami orang tua kita, maksudnya saat itu redenominasi rupiah, tetapi karena gagal, jadinya devaluasi.

Saat ini kita toh sudah mulai terbiasa dengan redenominasi bila berbelanja di pusat perbelanjaan, harga yang dicantumkan Rp.100 untuk penyebutan harga Rp.100 ribu. Atau ketika kita akan nonton pertunjukan musik di Hard Rock Cafe  mereka mencantumkan Ticket 150K, itu artinya 150 Kilo atau bahasa lain untuk mengungkapkan ribuan, atau sama juga dengan Rp.150 ribu.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

 

Walkot Diminta Mundur Karena PPDB ?

Anak-anak muda menggelar unjuk rasa di depan Balai Kota Tangerang Selatan, Selasa (12/7/2017). Salah satu poin penting yang disampaikan adalah, kalau Walikota tidak sanggup menangani urusan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), lebih baik mundur saja sebagai Walikota. 

Kalau PPDB dijadikan alasan untuk meminta Walikota untuk mundur, konteksnya saya rasa kurang tepat ya, adik-adik malah sudah dituding sebagai pihak yang gagal faham oleh para nitizen, karena program PPDB memang bukan kebijakan pemerintah daerah kabupaten/kota, dalam arti Walikota dan Bupati se Indonesia, hanya mematuhi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017, tanpa boleh menawar atau merubahnya, bahasa lainnya Pasrah Bongkok.

Tapi kalau alasan-alasan lain yang dipilih sebagai dasar permintaan mundur itu, bisa saja saya setuju, asal logis, akurat dan sesuai dengan Tupoksi (Tugas Pokok Fungsi) walikota yang tidak dijalankan atau dijalankan secara amburadul.

Misalnya begini, luas Tangerang Selatan sekitar 14 ribu hektar, kini 70 persennya dibawah ‘kekuasaan’ pengembang, antara lain Sinarmas Land Group 6.000 hektar, Paramount Enterprise International 2.300 hektar, dan PT Jaya Real Property Tbk 2.300 hektar dan masih banyak lagi. 

Jadi diatas kertas Pemkot Tangsel itu sebenarnya hanya tinggal ngurusin area seluas 30 persen saja, harusnya walikota ngurusinnya jadi lebih gampang toh, karena banyak yang bantuin. Nah kalau alasannya karena nggak becus ngurusin yang 30 persen itu, baru namanya alasan logis dan sesuai konteks.

Alasan bisa diambil dari soal penanganan Sarana Prasarana Kota (Sarpraskot). Amati mulai dari prapatan Institut Teknologi Indonesia (ITI), telusuri terus sampai ke Universitas Pamulang, kualitas jalannya memprihatinkan, bopeng-bopeng, tak jelas mana batas jalan mana drainase, ada pula bahagian jalan yang ditengah-tengahnya terdapat tiang telpon, tak jelas juga mana trotoar mana badan jalan dan sebagainya. Kondisi ini konon sudah berlangsung lama, bukan hitungan bulan lagi, udah taonan.

Atau balik ke sisi yang lain lagi, dari kampus ITI telusuri ke arah stasiun kereta api Serpong sampai Cilenggang, kondisinya nyaris sama, jalan gradakan, bila malam tak cukup penerangan dan seterusnya.

Ini baru penilaian dari sisi pemahaman cara berfikir lokal saja soal jalan umum, belum mengacu pada standart International Traffic sSgn Manual, dimana jalan di sebuah perkotaan harus memenuhi standart tertentu, kelengkapan aksesori seperti rambu, garis pita marka dan lain -lain. Kalau tidak memenuhi standart kelengkapan jalan perkotaan berarti namanya jalan pedesaan toh.

Tapi yang itu kok jalannya bagus bang, mulus, ada trotoar, ada pedestrian, lampu penerangannya cukup, sesuai standart jalan perkotaan.Ya benar, kalau diterusin dari Cilenggang menyeberang ke McDonald lurus atau belok kiri memang benar, tapi itu kan masuk kawasan yang 80 persen lho masbro, ada yang  ngurusin. 

Persoalan jalan umum dengan segala kelengkapannya mungkin persoalan yang agak rumit.Persoalan spele seperti mengatur nomor rumah misalnya, pun masih banyak juga yang kelupaan diberesin, seperti di RW 03, Kelurahan Pamulang Barat, mereka masih menggunakan nomor rumah berlogo Kabupaten Tangerang meski wilayah ini sudah tujuh tahun jadi Kota Tangerang Selatan dan pisah dari Kabupaten Tangerang.

Ada lagi proyek yang dikerjakan, namanya Rumah Bambu berada dalam area Gelanggang Budaya Tangsel, baru setaon dikerjakan kini bentuknya udah nggak jelas, padahal proyek ini dibangun dengan APBD Kota Tangsel 2015, angkanya lumayan fantastis Rp 7,1 miliar. 

Masih ada lagi Trans Anggrek yang tak tau rutenya dari mana kemana dan malah gimana nasib bus nya sekarang juga tak tau. Ada lagi bla.. bla..dan bla..bla...

Nah, sekali lagi, kalau nyari alasan untuk meminta walikota mundur, harus cari alasan yang tepat dan logis seperti itu, kalau PPDB yang dijadikan alasan, namanya Jaka Sembung Naik Ojek, nggak nyambung Jek.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

(BGBS) Belajar Goblok dari Bob Sadino

Dalam sepekan terakhir ini, sebagaian besar orang tua murid di berbagai wilayah dibuat resah karena kesulitan mendaftarkan anaknya di sekolah yang diinginkan, meskipun persyaratan untuk itu bisa mereka penuhi, karena terganjal aturan zonasi dan batasan umur dan soal-soal lainnya.

Mengamati kejadian ini, agaknya perlu dicermati statement almarhum  Bob Sadino." Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif." Kutipan ini diambil dari buku '' Belajar Goblok dari Bob Sadino'.

Sekolah saja sudah dianggap goblok oleh Bob Sadino, gimana kalau mau masuk sekolah saja sulitnya minta ampun, sehingga anak-anak yang ingin sekolah jadi pusing, dan para orang tuanya lebih pusing lagi.

Herannya, kenapa sih para pemangku kebijakan pendidikan tidak belajar pada negara tetangga terdekat, seperti Malaysia misalnya, yang sudah tidak lagi membahas soal remeh temeh dengan segala macam tetek bengek yang nggak penting seperti urusan zonasi, usia, ini itu dan seterusnya dalam penerimaan murid sekolah.

Saya sendiri sempat bermukim di Malaysia sekitar dua tahun, dan keluarga saya banyak yang sekolah di Malaysia, ada yang SD, tapi kebanyakan SMP dan SMA ( form one to form six), ada yang masuk di awal tahun pelajaran, ada juga yang pindahan dari Indonesia, tapi urusannya tidak ada yang ribet, yang penting datanya lengkap, bangku di sekolah yang bersangkutan masih tersedia, tak ada urusan zonasi segala. Lagian zonasinya apaan, wong kita warga negara Indonesia. Sekolahnya boleh pilih swasta murni, atau swasta yang diberi subsidi ( semi governement) atau negeri ( governemen).

Hanya saja bila murid pindahan dari Indonesia , pertama masuk memang ditempatkan di kelas ‘peralihan’, sebelum ditempatkan di kelas beneran, karena memang butuh  asimilasi, belajar gaya bahasa, style dan tata cara belajar mengajar, dan pergaulan antar murid. Setelah faham benar baru dipindah ke kelas beneran. Misalnya cara menghormat guru bila masuk ke kelas, sang ketua kelas mengatakan : '' Baaangunnn...(berdiri maksudnya), selamat pagi Cik Gu. 

Dan menjadi murid sekolah hanya perlu bawa pinsil, pulpen dan stabilo. Di minggu pertama belajar, semua murid diberi buku teks pinjaman dari pemerintah.

Kalau kita mau mengaku sebagai keluarga yang kurang mampu, tiap hari bisa dapat kupon makan minum gratis di kantin sekolah.

Soal pulang pergi dari rumah ke sekolah, tiap pagi di ujung jalan ada bus besar warna kuning bertuliskan’ Bas Sekolah”. Nomor rute sekian melewati sekolah A, B dan C, rute sekian melewati sekolah anu dan sekolah anu, tinggal pilih saja mana yang lewat sekolah kita, naik  gratis tidak pake bayar.

Sistem zonasi sebenarnya sudah pernah diperdebatkan beberapa tahun lalu yang merupakan 'jelmaan' sistem Rayon, dan dibuktikan kedua-duanya tidak sesuai dan tidak efektif. Saya sendiri mengalami ketika tinggal di Roxy, Jakarta Pusat. Saat milih sekolah anak, dapatnya di dekat stasiun Gambir. Kami minta di Grogol, karena rumah kami cuma tinggal nyebrang kali BKB ( Banjir Kanal Barat) ke Grogol.Tapi karena Grogol itu Jakarta Barat, tidak diizinkan, dan anak saya akhirnya di sekolahkan saja di swasta (Sumbangsih).

Mestinya urusan sekolah tak perlu dibuat ribet, anak Jakarta yang mau sekolah di Tangerang, silahkan, sepanjang bangkunya masih tersedia, anak Tangerang mau sekolah di Yogyakarta, di Bogor silahkan saja. Ini kok dalam satu kota, satu kabupaten saja, urusannya ribet begini. Bagaimana kita bisa bersaing di era MEA ( Masyarakat Ekonomi Asean), sementara negara-negara Asean sudah berfikir maju sekali soal penerimaan murid baru, dan mengurusi kualitas pendidikan, kita masih ngurusin soal-soal yang remeh temeh.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

 

Bisnis

Liburan Murah Bareng Keluarga, Ke...
IMAGE Villa Kirani.(Fit) Kabar6–Ingin berwisata bersama orang tercinta ke...
Cerdas, Modern Nan Religius, Ya...
IMAGE Busana Muslim Bimoes.(Fit) Kabar6–Bimoes kini hadir menjadi salah satu...

Kuliner

Sensasi Pedas Spaghetti Aglio...
IMAGE Spaghetti Aglio Olio.(fit) Kabar6–Ragam kuliner aneka rasa berjejer di...
Yuk, Kongkow Sambil "Ngemil"...
IMAGE Terong Crispy.(fit) Kabar6–Cemilan selalu menjadi pilihan paforit saat...

Sehat

Anda Dalam Tahap Stres Berat...
IMAGE Ilustrasi/bbs Kabar6-Stres terkadang disebabkan oleh hubungan yang kurang...
Ini Makanan yang Sebaiknya...
IMAGE Ilustrasi/bbs Kabar6-Tidak hanya tubuh, kaum hawa pun dituntut untuk...

Mengabarkan Informasi Seputar Wilayah Tangerang Kabupaten, Tangerang Kota, Tangerang Selatan, Bandara, Banten serta Berita Unik & Hot lainnya.

Copyright © Kabar6.com All Rights Reserved