Uang Sejuta Jadi Seribu

Belum lama ini kita sempat dihebohkan dengan isu soal rupiah tahun emisi 2016 yang dikatakan tidak diakui di sejumlah negara di luar negeri.Tapi namanya isu bisa berkembang liar jadi omongan macam-macam, dan belum tentu benar karena tidak diketahui pasti bagaimana dan dari mana asal usulnya.

Pengalamanku sendiri selama tinggal di luar negeri, uang rupiah rasanya tak pernah tak diakui oleh kalangan bisnis atau kalangan lainnya. Fakta yang terjadi adalah, bila ada transaksi bisnis dengan uang cash, rekan bisnis kita dari negara lain, bahkan di negara tetangga atau di daerah perbatasan, memang terkesan berusaha untuk 'mengelak' menerima bayaran dengan rupiah. Alasannya sederhanya saja, karena secara fisik jumlahnya terlalu banyak, dan kalimat seperti ini seringkali terdengar'' Singapo dolar je atau ringgit tak ape''.Jadi bukan soal diakui atau tidak diakui, kesanku mereka hanya ingin yang praktis. Bayangkan uang Rp.7,5 juta bisa jadi cuma satu lembar dolar Singapura pecahan SGD 1000. Mungkin itu juga yang jadi pertimbangan para pejabat korup, kalau minta komisi proyek pakai SGD, biar simple dan gampang diumpetin.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo sendiri mengatakan, soal itu karena lebih disebabkan minimnya ketersediaan rupiah di tempat penukaran (money changer) di negara-negara tersebut. Uang rupiah NKRI tahun emisi 2016 merupakan alat pembayaran resmi dan sah Indonesia yang sesuai dengan Undang-Undang Mata Uang dan Undang-Undang Bank Indonesia.

Pembicaraan hangat lainnya soal uang rupiah, tapi yang ini bukan isu, pemerintah berencana akan menghapus tiga nol pada uang rupiah yang beredar saat ini, artinya uang Rp.1000 akan jadi Rp.1, uang Rp.100.000 jadi Rp.100, sebagaimana dinyatakan Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Gubernur BI Agus Marto, pemerintah melalui RUU Redenominasi Rupiah ingin segera mengecilkan bilangan atau penyebutan rupiah, dan RUU Redenominasi Rupiah yang terdiri dari 17 pasal kini sedang digodok. 

Menurut Darmin, langkah ini bukan pemotongan uang atau revaluasi rupiah terhadap valas tetapi hanya penyederhanaan bilangan atau hitungan. 

Orang-orang yang sudah dewasa dan mengerti nilai uang pada 1966, pernah mengalami 'mimpi buruk' soal uang rupiah, ketika pemerintah melakukan pemotongan uang Rp 1000 menjadi Rp 1 atau disebut devaluasi. Kemudian Indonesia dilanda inflasi terus menerus sejak saat itu hingga sekarang.

Kalau yang dilakukan hanya redenominasi rupiah, kita semua memang tak perlu kaget atau merasakan pengulangan 'mimpi buruk' yang pernah dialami orang tua kita, maksudnya saat itu redenominasi rupiah, tetapi karena gagal, jadinya devaluasi.

Saat ini kita toh sudah mulai terbiasa dengan redenominasi bila berbelanja di pusat perbelanjaan, harga yang dicantumkan Rp.100 untuk penyebutan harga Rp.100 ribu. Atau ketika kita akan nonton pertunjukan musik di Hard Rock Cafe  mereka mencantumkan Ticket 150K, itu artinya 150 Kilo atau bahasa lain untuk mengungkapkan ribuan, atau sama juga dengan Rp.150 ribu.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

 

Walkot Diminta Mundur Karena PPDB ?

Anak-anak muda menggelar unjuk rasa di depan Balai Kota Tangerang Selatan, Selasa (12/7/2017). Salah satu poin penting yang disampaikan adalah, kalau Walikota tidak sanggup menangani urusan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), lebih baik mundur saja sebagai Walikota. 

Kalau PPDB dijadikan alasan untuk meminta Walikota untuk mundur, konteksnya saya rasa kurang tepat ya, adik-adik malah sudah dituding sebagai pihak yang gagal faham oleh para nitizen, karena program PPDB memang bukan kebijakan pemerintah daerah kabupaten/kota, dalam arti Walikota dan Bupati se Indonesia, hanya mematuhi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017, tanpa boleh menawar atau merubahnya, bahasa lainnya Pasrah Bongkok.

Tapi kalau alasan-alasan lain yang dipilih sebagai dasar permintaan mundur itu, bisa saja saya setuju, asal logis, akurat dan sesuai dengan Tupoksi (Tugas Pokok Fungsi) walikota yang tidak dijalankan atau dijalankan secara amburadul.

Misalnya begini, luas Tangerang Selatan sekitar 14 ribu hektar, kini 70 persennya dibawah ‘kekuasaan’ pengembang, antara lain Sinarmas Land Group 6.000 hektar, Paramount Enterprise International 2.300 hektar, dan PT Jaya Real Property Tbk 2.300 hektar dan masih banyak lagi. 

Jadi diatas kertas Pemkot Tangsel itu sebenarnya hanya tinggal ngurusin area seluas 30 persen saja, harusnya walikota ngurusinnya jadi lebih gampang toh, karena banyak yang bantuin. Nah kalau alasannya karena nggak becus ngurusin yang 30 persen itu, baru namanya alasan logis dan sesuai konteks.

Alasan bisa diambil dari soal penanganan Sarana Prasarana Kota (Sarpraskot). Amati mulai dari prapatan Institut Teknologi Indonesia (ITI), telusuri terus sampai ke Universitas Pamulang, kualitas jalannya memprihatinkan, bopeng-bopeng, tak jelas mana batas jalan mana drainase, ada pula bahagian jalan yang ditengah-tengahnya terdapat tiang telpon, tak jelas juga mana trotoar mana badan jalan dan sebagainya. Kondisi ini konon sudah berlangsung lama, bukan hitungan bulan lagi, udah taonan.

Atau balik ke sisi yang lain lagi, dari kampus ITI telusuri ke arah stasiun kereta api Serpong sampai Cilenggang, kondisinya nyaris sama, jalan gradakan, bila malam tak cukup penerangan dan seterusnya.

Ini baru penilaian dari sisi pemahaman cara berfikir lokal saja soal jalan umum, belum mengacu pada standart International Traffic sSgn Manual, dimana jalan di sebuah perkotaan harus memenuhi standart tertentu, kelengkapan aksesori seperti rambu, garis pita marka dan lain -lain. Kalau tidak memenuhi standart kelengkapan jalan perkotaan berarti namanya jalan pedesaan toh.

Tapi yang itu kok jalannya bagus bang, mulus, ada trotoar, ada pedestrian, lampu penerangannya cukup, sesuai standart jalan perkotaan.Ya benar, kalau diterusin dari Cilenggang menyeberang ke McDonald lurus atau belok kiri memang benar, tapi itu kan masuk kawasan yang 80 persen lho masbro, ada yang  ngurusin. 

Persoalan jalan umum dengan segala kelengkapannya mungkin persoalan yang agak rumit.Persoalan spele seperti mengatur nomor rumah misalnya, pun masih banyak juga yang kelupaan diberesin, seperti di RW 03, Kelurahan Pamulang Barat, mereka masih menggunakan nomor rumah berlogo Kabupaten Tangerang meski wilayah ini sudah tujuh tahun jadi Kota Tangerang Selatan dan pisah dari Kabupaten Tangerang.

Ada lagi proyek yang dikerjakan, namanya Rumah Bambu berada dalam area Gelanggang Budaya Tangsel, baru setaon dikerjakan kini bentuknya udah nggak jelas, padahal proyek ini dibangun dengan APBD Kota Tangsel 2015, angkanya lumayan fantastis Rp 7,1 miliar. 

Masih ada lagi Trans Anggrek yang tak tau rutenya dari mana kemana dan malah gimana nasib bus nya sekarang juga tak tau. Ada lagi bla.. bla..dan bla..bla...

Nah, sekali lagi, kalau nyari alasan untuk meminta walikota mundur, harus cari alasan yang tepat dan logis seperti itu, kalau PPDB yang dijadikan alasan, namanya Jaka Sembung Naik Ojek, nggak nyambung Jek.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

(BGBS) Belajar Goblok dari Bob Sadino

Dalam sepekan terakhir ini, sebagaian besar orang tua murid di berbagai wilayah dibuat resah karena kesulitan mendaftarkan anaknya di sekolah yang diinginkan, meskipun persyaratan untuk itu bisa mereka penuhi, karena terganjal aturan zonasi dan batasan umur dan soal-soal lainnya.

Mengamati kejadian ini, agaknya perlu dicermati statement almarhum  Bob Sadino." Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif." Kutipan ini diambil dari buku '' Belajar Goblok dari Bob Sadino'.

Sekolah saja sudah dianggap goblok oleh Bob Sadino, gimana kalau mau masuk sekolah saja sulitnya minta ampun, sehingga anak-anak yang ingin sekolah jadi pusing, dan para orang tuanya lebih pusing lagi.

Herannya, kenapa sih para pemangku kebijakan pendidikan tidak belajar pada negara tetangga terdekat, seperti Malaysia misalnya, yang sudah tidak lagi membahas soal remeh temeh dengan segala macam tetek bengek yang nggak penting seperti urusan zonasi, usia, ini itu dan seterusnya dalam penerimaan murid sekolah.

Saya sendiri sempat bermukim di Malaysia sekitar dua tahun, dan keluarga saya banyak yang sekolah di Malaysia, ada yang SD, tapi kebanyakan SMP dan SMA ( form one to form six), ada yang masuk di awal tahun pelajaran, ada juga yang pindahan dari Indonesia, tapi urusannya tidak ada yang ribet, yang penting datanya lengkap, bangku di sekolah yang bersangkutan masih tersedia, tak ada urusan zonasi segala. Lagian zonasinya apaan, wong kita warga negara Indonesia. Sekolahnya boleh pilih swasta murni, atau swasta yang diberi subsidi ( semi governement) atau negeri ( governemen).

Hanya saja bila murid pindahan dari Indonesia , pertama masuk memang ditempatkan di kelas ‘peralihan’, sebelum ditempatkan di kelas beneran, karena memang butuh  asimilasi, belajar gaya bahasa, style dan tata cara belajar mengajar, dan pergaulan antar murid. Setelah faham benar baru dipindah ke kelas beneran. Misalnya cara menghormat guru bila masuk ke kelas, sang ketua kelas mengatakan : '' Baaangunnn...(berdiri maksudnya), selamat pagi Cik Gu. 

Dan menjadi murid sekolah hanya perlu bawa pinsil, pulpen dan stabilo. Di minggu pertama belajar, semua murid diberi buku teks pinjaman dari pemerintah.

Kalau kita mau mengaku sebagai keluarga yang kurang mampu, tiap hari bisa dapat kupon makan minum gratis di kantin sekolah.

Soal pulang pergi dari rumah ke sekolah, tiap pagi di ujung jalan ada bus besar warna kuning bertuliskan’ Bas Sekolah”. Nomor rute sekian melewati sekolah A, B dan C, rute sekian melewati sekolah anu dan sekolah anu, tinggal pilih saja mana yang lewat sekolah kita, naik  gratis tidak pake bayar.

Sistem zonasi sebenarnya sudah pernah diperdebatkan beberapa tahun lalu yang merupakan 'jelmaan' sistem Rayon, dan dibuktikan kedua-duanya tidak sesuai dan tidak efektif. Saya sendiri mengalami ketika tinggal di Roxy, Jakarta Pusat. Saat milih sekolah anak, dapatnya di dekat stasiun Gambir. Kami minta di Grogol, karena rumah kami cuma tinggal nyebrang kali BKB ( Banjir Kanal Barat) ke Grogol.Tapi karena Grogol itu Jakarta Barat, tidak diizinkan, dan anak saya akhirnya di sekolahkan saja di swasta (Sumbangsih).

Mestinya urusan sekolah tak perlu dibuat ribet, anak Jakarta yang mau sekolah di Tangerang, silahkan, sepanjang bangkunya masih tersedia, anak Tangerang mau sekolah di Yogyakarta, di Bogor silahkan saja. Ini kok dalam satu kota, satu kabupaten saja, urusannya ribet begini. Bagaimana kita bisa bersaing di era MEA ( Masyarakat Ekonomi Asean), sementara negara-negara Asean sudah berfikir maju sekali soal penerimaan murid baru, dan mengurusi kualitas pendidikan, kita masih ngurusin soal-soal yang remeh temeh.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

 

Jadilah Wartawan yang Menyebalkan

Teman baikku, wartawan Kompas, Jodi Yudono beberapa pekan lalu menulis begini: Jika seseorang mau menjadi wartawan hebat dan dikenang sejarah, harus menjadi wartawan yang menyebalkan.

Dan tulisan ini terus berputar-putar mengitari ingatanku dalam beberapa hari terakhir, dan bahkan melebar kemana-mana sampai teringat ucapan seorang wartawan Amerika yang juga permah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah Time, Henry Anatole Grunwald yang menulis pada edisi ulang tahun ke 60 majalah Time : ‘’Jurnalisme tidak pernah bisa diam: itulah kebajikan terbesar dan kesalahan terbesarnya. Ia harus berbicara, dan segera berbicara, meski kekuatan dan ancaman serta tanda-tanda horor masih ada di udara."

Saat ini wartawan berkategori menyebalkan jumlahnya memang semakin sedikit, karena menjadi wartawan yang menyebalkan berarti menjadi orang yang tidak disukai para pemegang jabatan yang curang atau para pemilik kekuasaan yang bergelimang uang haram. Dan menjadi wartawan yang menyebalkan malah terkadang dianggap sebagai ‘kebodohan’, karena hanya akan semakin menjauhkan diri dari ketawa- ketiwi beriring ‘salam tempel’, dan hal-hal lain yang menyenangkan.

Meski menjadi wartawan yang menyebalkan itu bukan berarti menerapkan etika rendah, mengabaikan kesopanan di depan narasumber, apalagi melanggar Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers, bukan begitu. Tetapi menjadi wartawan yang menyebalkan selalu punya keberanian mengupas data fakta yang membuat narasumber kehabisan kata-kata, tak bisa mengelak untuk bicara terbuka terkait hal yang ditanyakan, dan terkadang bisa merubah rona wajah narasumber menjadi merah padam, serta memancing rasa tidak senang sekaligus amarah yang tak terkendali.

Aku sendiri merasa beberapa kali dianggap narasumber sebagai wartawan yang menyebalkan, salah satunya oleh seorang anggota DPR RI yang kini menjabat Duta Besar RI. Karena pertanyaan dan pernyataanku, beberapa kali dia terpaksa memanggilku, pertama ke Hotel Mulia, kemudian ke Hotel Hilton, kemudian ke sebuah Café, meminta agar menarik pertanyaan dan pernyataanku, serta tidak menuliskannya di koran’ Rakyat Merdeka’ tempatku bekerja waktu itu.Tapi tetap tak tercapai kata'kompromi'.

Ketika aku tanya, apakah tindakanku melanggar etika moral, kesopanan, kode Etik Jurnalistik atau pelanggaran hukum, dijawabnya tidak sama sekali, dia hanya meminta pengertianku saja, sebab hala yang aku sampaikan bisa mengganggu ‘proyek’ yang sedang ditanganinya.Karena aku tidak memenuhi permintaannya, dan tidak menawarkan kata'kompromi', sejak itu hingga sekarang ‘hubungan’ kami tidak baik, atau istilah orang Medan 'eskete', padahal sebelumnya terbilang sangat akrab.

Menjadi wartawan yang "menyebalkan" itu memang pilihan, sebab, banyak pula wartawan yang memilih menjadi wartawan yang ‘ menyenangkan’, atau lebih keliru dari itu. 

Lihatlah di Bengkulu misalnya, ada ‘oknum’ yang berani menobatkan gubernurnya sebagai Gubernur Akhlakul Karimah meskipun bau busuk di provinsi ini sudah lama tercium. Tapi tak lama kemudian fakta berbicara, si gubernur bahkan bersama isterinya dicokok KPK, lalu dia mengundurkan diri sebagai gubernur dan juga ketua partai. Di daerah lain ada juga gubenur yang dijuluki sebagai ibu gubernur religius oleh 'oknum', tapi kemudian juga dicokok KPK. 

Sejatinya menjadi wartawan haruslah menjadi wartawan yang menyebalkan, karena bila memilih menjadi wartawan yang menyenangkan, itu artinya cuma 11-12 saja dengan staf kominfo dan mengabaikan tugas koreksi. Bila ada wartawan menganggap semua pejabat baik-baik saja, berarti dia juga mengabaikan apa yang harus dimiliki wartawan, yakni skeptis, doubt (ragu), discern (kritis) serta demand (arus informasi bebas), sekaligus mengabaikan fungsinya sebagai investigator.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

 

Bila Makanan Dihinggapi Lalat

Pada momen lebaran seperti sekarang ini, di hampir setiap rumah biasanya akan dibanjiri berbagai jenis hidangan, mulai dari yang tradisional sampai modern, atau bahkan menu spesial yang hanya ada bila lebaran tiba. Lalu bagaimana bila kebetulan hidangan dihinggapi lalat, karena mungkin pesta bersama keluarga digelar di taman atau di halaman rumah.

Fakta yang terlihat, sebahagian besar orang akan langsung berusaha mengusirnya, sebahagian lagi membuang makanan atau minuman yang dihinggapi lalat, meskipun makanan atau minuman tersebut lezat nikmat dan harganya mahal. Karena lalat dianggap hewan kotor, dan selalu main di tempat kotor, akan dapat menyebarkan penyakit.

Islam mengajarkan seperti ini :"Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap satunya lagi obatnya (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad). Dalam riwayat lain: "Sungguh pada salah satu sayap lalat ada racun dan pada sayap lainnya obat, maka apabila ia mengenai ma-kananmu maka perhatikanlah lalat itu ketika hinggap di makananmu, sebab ia mendahulukan racunnya dan mengakhi-kan obatnya" (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).

Lalat adalah jenis serangga dari ordo diptera ( bahasa Yunani di berarti dua dan ptera berarti sayap) begitu dijelaskan di wikipedia. Perbedaan yang paling jelas antara lalat dan ordo se-rangga lainnya adalah, lalat punya sepasang sayap terbang dan sepasang  halter, yang berasal dari sayap belakang pada metatoraks, kecuali beberapa spesies lalat yang tidak dapat terbang. 

Penelitian yang dilakukan sejumlah ahli kimia, mikrobiologi dan ahli terkait menjelaskan banyak hal tentang apa mengapa dan bagaimana lalat. Seluruh penelitian tersebut membenarkan dan sesuai dengan sejumlah hadis yang dua diantaranya disertakan diatas. Referensi penelitian ilmiah tentang lalat bisa digali lebih dalam pada : Danny Kingsley, The New Buzz on Antibiotics. ABC Science Online. Dan masih sangat banyak referensi lain yang bisa dijadikan bahan pengetahuan.

Percobaan yang dilakukan dalam sebuah eksperimen, lalat dicelupkan pada larutan yang mengandung sejumlah kuman seperti E.coli, Staphilococcus Emas dan Candida (sejenis ragi). Lalat menunjukkan reaksi antibiotika dari permukaan tubuhnya dan juga bahagian perut untuk menangkis serangan kuman.

Lalu penelitian sayap lalat. Sayap kanan dicelupkan ke air, dan hasilnya terlihat memunculkan kuman atau bakteri. Lalu sayap kiri yang dicelupkan memunculkan antibiotik. Persis seperti dijelaskan hadist tersebut, satu sayapnya mengandung racun, satu lagi mengandung obat. 

Sesuatu yang terdengar aneh tidak selalu aneh, dan hadist shahih tak bisa dibantah, serta fakta ilmiah adalah pembuktian nyata. Seperti misalnya mengobati gigitan ular berbisa justru dengan bahan (serum) yang dibuat dari bisa ular itu sendiri, seperti yang dibuktikan Louis Pasteur bersama muridnya Albert Calmette di tahun 1896, dan hingga kini masih dipakai meskipun terus terjadi penyempurnaan disana-sini. 

Jadi, lalat yang hinggap di makanan minuman dan langsung dibuang tanpa mencelupkan ke dalam makanan atau minuman di tempat hinggapnya lalat, bisa saja mengandung bakteri. Tapi jika lalat ditenggelamkan total dalam makanan atau minuman, makan terjadi tekanan dalam sel dan enzim pembawa kuman penyakit dihancurkan hingga mati, sehingga makanan minuman menjadi netral kembali, terbebas dari bakteri.

Kalau memang tidak ingin lalat mengunjungi meja makan atau ruang makan atau rumah makan milik anda, bisa ditempuh sejumlah langkah tanpa harus menggunakan pestisida dan membunuh lalat bersangkutan.

Gantungkan saja air yang dimasukkan ke dalam plastik kantong berwarna putih, mungkin plastik ukuran satu kilo. Karena itu terlihat beberapa pengelola warung makan menerapkan hal ini dan lumayan mujarab menjauhkan lalat dari etalase makanan. 

Itu bisa terjadi, karena lalat memiliki dua mata majemuk yang menempati sebagian besar kepalanya dan tiga mata tambahan yang disebut Ocelli. Dengan begitu lalat punya sensorik dan kemampuan manuver yang handal. Sedang air dalam kantong plastik, bisa memantulkan, membiaskan dan membelokkan cahaya. Metode illusi optik semacam ini mam-pu mengacaukan sensor mata lalat tidak terkonsentrasi, sehingga lalat cenderung memilih untuk menjauh karena bingung, apakah itu objek sasaran yang benar atau tidak. Dari-pada bingung, biasanya lalat cenderung memilih kaburrr...

Bisa juga dengan mengisi kantong kain atau yang disebut uncang dengan kulit kayu manis, bunga lawang dan cengkih ke dalamnya. Gantungkan dekat wadah hidangan  atau ruang makan yang kerap dikunjungi lalat.

Berikutnya bisa dengan menyalakan lilin di meja makan atau diantara hidangan semacam prasmanan misalnya. Karena cahaya lilin tidak disukai lalat. Atau bisa juga dengan meletak-kan di sisi kiri kanan makanan cabai merah besar yang sudah dibelah dua atau empat. Terserah mana cara yang lebih mudah untuk dilakukan.

Penulis buku ‘’ Bibel, Qur'an dan Sains Modern -  La Bible, le Coran et la Science (1976) Maurice Bucaille menjelaskan bahwa tidak ada kontradiksi antara Islam dan Ilmu Pengetahuan modern.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

 

Orang Pelit Pasti Sengsara

Pelit atau bakhil atau cheapskate , sangat berbeda dengan hemat atau frugal. Orang pelit pada dasarnya adalah orang yang sengsara, karena dia tidak mau membagikan apa yang dia punya kepada orang lain, dan bahkan seringkali juga pada dirinya sendiri. Sementara orang hemat adalah orang yang memperhitungkan segala sesuatu yang ingin dikeluarkannya.

Mengapa orang pelit sengsara. Karena mereka selalu diiringi rasa takut akan kekurangan yang berlebihan, ketakutan kehilangan segala sesuatu yang sudah dimilikinya. Karena dia percaya dengan mengua sai uang serta harta benda akan dapat memberinya rasa aman dan nyaman dalam menjalani kehidupan, tapi entah kapan waktunya. 

Sifat pelit adalah salah satu penyakit yang harus dijauhi dan dibuang jauh-jauh (QS Al Hadid 57:23-24), karena ia adalah salah satu penyakit hati, penyakit perilaku dan penyakit masyarakat. Penyakit itu tidak saja dari sisi agama, tapi juga dari sisi kehidupan sosial. 

Asal mula munculnya sikap pelit/kikir, karena cara berfikir yang menyimpulkan bahwa, apa-apa yang diperoleh, terutama dalam bentuk harta, seutuhnya adalah hak pribadi tanpa ada siapapun yang bisa mengganggu gugat, termasuk soal penggunaannya, apakah dia akan dibagikan kepada pihak lain akan digunakan sendiri atau disimpan rapat-rapat. 

Mengapa Islam perlu mengatur sebahagian pendistribusian harta orang-orang yang diberi kelebihan, tentu punya maksud dan tujuan, antara lain sebagai ajang interaksi sosial pada sesama manusia yang memang diciptakan tidak dalam kondisi strata yang sama secara kemampuan, perolehan rezeki dan derajat serta kesempatan untuk meraih sesuatu. (QS An Nisa’ 4:34). 

Sikap pelit atau bakhil itu sebenarnya justru akan mencelakakan diri sendiri (QS Muhammad 47:38), dan itu pasti, baik dari sisi sosial kemasyarakatan apalagi dari sisi agama, karena sikap pelit adalah sikap anti sosial. Orang -orang yang punya berkelebihan harta justru diberi kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain dengan cara membagikan sebahagian harta yang ada padanya, dan nilai kebaikan itu bukan untuk orang yang menerima, tapi justru untuk diri mereka sendiri (QS Al Isra’ 17:7). 

Dan belum tentu juga dengan memberikan sebahagian harta kepada orang lain akan mengurangi jumlah harta yang kita miliki. Karena para Malaikat selalu berdo’a kepada Allah SWT untuk orang-orang yang pelit dan juga untuk orang-orang yang suka membagikan hartanya lewat Infaq- Sedekah. 

Cuma do’anya berbeda. Untuk orang kikir malaikat mendo’akan agar harta orang kikir dan juga orangnya dihancurkan, sementara orang yang suka ber-infaq, malaikat berdo’a, ya Allah berilah gantinya kepada mereka.( HR.Bukhari- Muslim). Dalam Fat-hul Baari III/305, disebutkan, pengganti bisa saja dalam bentuk harta semula di dunia, tapi bisa juga dalam bentuk pahala yang menjadi penolong di akhirat atau bisa pula menjadi penghalang dari kejelekan. 

Dalam sebuah riwayat dari Aisyah RA, ketika seorang perempuan datang kepada Rasulullah dengan kedaan tangan kanannya sakit (kram) meminta do’a agar tangannya sembuh. Rasulullah bertanya: “Apa sebab tanganmu sakit?” “ Aku mimpi ya Rasulullah, hari kiamat datang, neraka jahannam apinya sudah dihidupkan, surga sudah dihias. Aku lihat ibuku di neraka. Tangannya yang satu memegang sepotong lemak dan yang satu memegang sepotong kain yang dijadikan penahan panasnya api neraka. Lalu aku bertanya pada ibu, kenapa dia di neraka? Padahal dia taat beribadah. Ibuku menjawab: “ Aku adalah orang yang pelit, bakhil ketika di dunia.” “Mengapa lemak dan sepotong kain yang Ibu pegangi? ” tanyaku lagi.‘’selama hidup di dunia hanya dua benda itu yang pernah aku sedekahkan ’’ jawab ibunya.(Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 

Bisnis

Bubble Star, Botol Dot Bayi...
IMAGE Botol bayi Bubble Star. (Tim K6) Kabar6-Botol dot bayi merupakan salahsatu...
Produk 'Liqui Moly' Asal Jerman...
IMAGE Lars Weber, Managing Director Liqui Moly Asia Pacific di ACE Alam...

Kuliner

Idul Fitri, Cafe Bandar...
IMAGE Cafe Bandar Durian. (agm) Kabar6- Bisnis buah durian seakan tak pernah...
Yuk, Jajal Enaknya "Soto Ayam...
IMAGE Mas Yusup, pemilik Soto Ayam Doang.(din) Kabar6-Bagi Anda yang...

Sehat

Wanita Cenderung Hidup Lebih...
IMAGE Ilustrasi/bbs Kabar6-Wanita yang tinggal di daerah yang dikelilingi...
Alergi Telur, 9 Jenis Makanan...
IMAGE Ilustrasi/bbs Kabar6-Meskipun mengandung kadar protein yang tinggi dan...

Mengabarkan Informasi Seputar Wilayah Tangerang Kabupaten, Tangerang Kota, Tangerang Selatan, Bandara, Banten serta Berita Unik & Hot lainnya.

Copyright © Kabar6.com All Rights Reserved