Kabar6.Com

Lontong Cap Go Meh di Alam Sutera Masuk Rekor MURI

Kabar6-Lontong Cap Go Meh yang digelar di Living World (LIWO) Alam Sutera, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), berhasil masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai lontong Cap Go Meh terpanjang.

"Berat lontong ini mencapai 1,4 ton," kata Rian Putra Widya Krisnadi, penanggungjawab acara di Living World, kemarin.

Ia menjelaskan, untuk memasak lontong ini membutuhkan waktu hingga tiga hari. Masakan tradisional bagi warga keturunan etnis tionghoa ini memiliki diameter panjang 5,30 meter, lebar 1 meter dan diameter 50 meter.

Masih menurut Rian, untuk membuat lontong Cap Go Meh raksasa menghabiskan bahan dasar beras hingga 350 kilogram. Bahkan, peralatan masak berupa dandang yang digunakan  selebar tiga meter.

"Bahan bakar memasaknya dengan kayu rambutan sebanyak empat truk," terang Rian.

Untuk memasak lontong dibuat dandang setinggi tiga meter dengan diameter satu meter. Besaran dandang untuk memasak beras sebanyak 250 kilogram selama 12 jam. "Untuk mengangkat lontong Cap Go Meh ini dibantu oleh 120 orang,"

Menurutnya hasil masakan ini akan dibagikan kepada anak-anak kurang mampu. Yakni, mudita love children, anak langit dan panti asuhan pintu elok. "Lontong ini bisa untuk 1.500 porsi." jelasnya.

Seperti diketahui, Cap Go Meh adalah perayaan malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek yang di tahun ini jatuh pada 10 Februari 2013. Cap Go Meh mulai dirayakan di Indonesia sejak abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan.

Cap Go Meh sebenarnya adalah istilah Hokkian, yang artinya “malam 15”. Di daratan Tiongkok sendiri, dinamakan Yuan Xiau Jie dalam bahasa Mandarin, yang artinya festival malam bulan pertama.

Pada zaman dinasti Han dahulu (202 SM - 220 M), pada malam Cap Go Meh tersebut, biasanya sang kaisar sendiri khusus keluar istana untuk turut merayakan bersama dengan rakyatnya.

Setiap tradisi budaya selalu memiliki asal- usul. Salah satu versi asal muasal Cap Go Meh terjadi pada zaman dinasti Zhou (770 - 256 SM).

Setiap tanggal 15 malam bulan pertama setelah Imlek, para petani memasang lampion-lampion yang dinamakan Chau Tian Can di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakuti binatang-binatang perusak tanaman.

Ketika itu tujuan memasang lampion-lampion tersebut adalah untuk mengusir hama. Namun di masa kini justru menjadi suatu tradisi yang menampilkan pemandangan yang indah di malam hari tanggal 15 bulan pertama.

Ketika itu untuk menakuti atau mengusir binatang-binatang perusak tanaman, selain memasang lampion, mereka menambah segala bunyi-bunyian serta bermain barongsai, agar lebih ramai dan bermanfaat bagi petani.

Kepercayaan dan tradisi budaya ini terus berlanjut secara turun menurun, baik di daratan Tiongkok maupun di perantauan di seluruh dunia.

Sedangkan di Indonesia, selain terdapat acara pawai arak-arakan keliling, terdapat ciri khas lain, yaitu makanan lontong Cap Go Meh, yang terutama banyak terdapat di masyarakat Jawa.

Lontong cap go meh terdiri dari berbagai jenis makanan, yaitu lodeh, opor,  sate abing, ditambah lontong dan bubuk kedelai.(yud)

Berita Terkait:
Kabar6-Sesosok mayat perempuan paruh baya tanpa identitas ditemukan tewas dengan kondisi kepala pec
Kabar6-Sudah menjadi rahasia umum bila barang-bajakan lebih mudah dicari dan harganya pun relatif e
Kabar6-Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI) Kementerian Hukum dan HAM, melansir
Share

Add comment


Security code
Refresh